Monday, 2 July 2012

Waiting




Langit sore penuh palet oranye selalu menjadi yang terindah untuk kita lewati. Aku mengingat setiap tawa ceria yang tidak semua orang punya. Aku melihat bayanganmu diantara ribuan burung yang terbang bebas di angkasa. Aku mendengar suara lembut nyanyianmu yang terbawa angin sore.
Hari ini, aku melewatinya sendirian. Tanpa ada lagi nyanyian lembut itu, tanpa tawa ceria yang selalu kurindukan. Lagi – lagi aku menitihkan air mata. Rasanya hariku hanya lembaran buram tak berkisah. Aku hanya mampu memandangmu dari layar 10 inchiku, melihat senyum yang telah lama kurindu.  Enam bulan tanpa kamu seperti enam windu tanpa keceriaan. Aku merindukanmu sayang, benar – benar merindukanmu. Muhammad Hasrisurur, laki – laki berparas rupawan yang selalu menjadi sumber dari setiap tawa ceriaku. Aku merindukannya, . . .


Merindukan senyum manis yang selalu tersungging indah di bibirnya. Tatapan penuh ketenangan yang selalu meneduhkan hatiku. Apakah dia juga merindukanku?
“Anisa, sudah mau malam ni, pulang yok…” Tegur Haniko sebelum berlalu dari pandanganku.
Perempuan berambut panjang dengan lesung pipit di pipi kanannya itu adalah teman pertamaku dan sahabat akrabku di negara ini. Jepang, negara impian yang sendari dulu menjadi masa depan dalam anganku. Aku harus mengorbankan Hans –nama panggilannya- demi ini semua. Demi sebuah mimpi yang menungguku untuk membuatnya nyata. Untuk ini semua aku harus menjalani hari tanpa dirinya selama 3 tahun. Oh Tuhan…. Betapa lama waktu yang Engkau berikan. Tapi aku harus bisa. Jangan menyerah Anisa! Kamu pasti bisa menjalani ini semua!
To        : Anisa
From    : Hans
            Senja,
            Selalu menjadi berharga saat kita lewati bersama, saat langit oranye menjadi saksi sebuah rasa suka sederhana yang kini telah menjadi rasa cinta yang luar biasa. Aku sama sepertimu, merindukanmu yang berada beribu-ribu kilometer dari sampingku. Namun, kamu tetap dihatiku. Hanya kamu dan hanya kamu. 3 tahun waktu yang singkat sayang, aku akan selalu setia menunggumu. Menunggumu kembali dalam pelukanku, saat itulah aku tak akan pernah melepaskanmu. Saat semua mimpi kita telah selesai dengan hasil akhir yang menggembirakan. Saat itulah kamu akan resmi menjadi miliku selamanya. Selamanya…

Pesan singkat melalui media elektronik itu menguras air mataku. Aku tersedu dalam diam disudut kantor kerjaku.
“Kamu kenapa sayang? Ada masalah?” Tanya Haniko yang cemas melihatku menangis dan kemudian merengkuhku dalam pelukannya.
Aku hanya memperlihatkan surat elektronik yang telah aku terjemahkan melalui sebuah aplikasi bawaan dari browser tersebut. Nampaknya Haniko mengerti kegundahan hatiku. Dia mengajakku ke sebuah tempat tak jauh dari kantor tempatku bekerja.
“Jadi ini semua mimpimu?” Ucapnya memulai pembicaraan.
Aku hanya menganggukkan kepala sekilas dan masih sibuk memandangi danau yang nampak sepi dan sejuk yang membentang indah di depan mataku.
“Kamu ingin jadi animator kan?” Tanyanya lagi.
“Iya, aku ingin jadi yang terbaik di dunia.” Jawabku percaya diri.
“Aku tidak yakin kamu bisa melakukannya. Jangan seperti ini Anis! Aku tau kamu bisa! Mimpi itu harus kamu wujudkan! Jangan menyia-nyiakan waktu. 3 tahun bagai 3 menit saat kamu benar – benar melalui dengan senyuman keikhlasan.” Ucapnya seraya menepuk-nepuk pundakku.
Aku memeluknya dengan erat, dan saat itulah aku yakin dengan apa yang Haniko katakan. Aku akan belajar tersenyum dengan ikhlas melalui ini semua. Ini adalah mimpiku, demi segalanya yang telah aku korbankan. Dan demi Hans yang telah rela menungguku di jutaan menit.
            Pagi ini mentari datang menyapa dengan gembira. Jalanku terasa amat ringan menuju sebuah perusahaan animasi ternama di Jepang. Senyum indah tersungging rapi di bibir. Hari ini aku ingin tertawa bahagia, aku ingin memberikan warna kebahagian di setiap orang yang telah masuk di duniaku.
Ohayo Haniko-san… kamu terlihat cantik pagi ini.” Sapaku untuk Haniko yang masih bingung melihat perubahan sikapku.
“Anis, ada rapat hari ini jam 9, kamu yang memegang projectnya. On time ya..” Ucap Marlin, sekertaris berdarah Skotlandia - Jerman dengan senyum manis di bibirnya.
“Ada lagi yang dibutuhkan?” Tanyaku padanya.
“Tidak, cukup pertahankan senyum manismu pagi ini.” Jawabnya sebelum berlalu dari hadapanku.
Aku pikir waktu berputar begitu cepat hari ini. Satu hari telah terlewatkan dengan senyuman keikhlasan. Kenapa tidak dari kemarin saja aku seperti ini? Ya sudahlah, selesaikan sajalah semuanya.
Satu demi satu project telah kulalui dengan puluhan tepuk tangan. Pujian mengalir dan berbagai ucapan selamat tak henti – hentinya memenuhi hariku. Kurang 8 bulan lagi aku bisa bertemu dengan dia. Aku akan memeluknya dengan erat dan tak akan melepaskannya. Aku tidak sabar menunggu lagi.
Hujan,
Selalu menjadi saat yang mengingatkanku tentang kenangan. Aku masih ingat saat pertama kali jari jemari kita bertemu. Di bawah hujan yang datang membawa cinta. Saat pelukan hangatmu menyelimuti tubuhku. Saat itulah rasanya jatungku berhenti berdetak. Dan hari ini aku melewatkan hujan sendirian. Duduk ditepi jendela memandangi setiap tetes rindu yang membasahi kaca. Memang benar, di dalam hujan ada lagu bagi mereka yang merindu. Aku mengingat setiap denting hujan dan iramanya. Lantunan bait indah dengan gemericik suara khasnya yang sebentar lagi akan mempertemukan kita.
Mataku masih memandangi layar 10 inchi dengan lebar. Melihat senyum manis tersungging di bibirmu. Mendengar suara khasmu yang selalu menghadirkan tawaku.
“Sayang, mau aku nyanyiin sebuah lagu nggak?” Ucapnya seraya menatap lurus ke arahku.
Aku hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman manis untuknya.
I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight. “ Suaranya berhenti dan pandangannya mendung menuju arahku.
“Are you oke sayang?” Tanyaku dengan cemas.
“Sayang, jika aku akan pergi. Apa kamu akan bersedia menungguku kembali?” Ucapnya dengan nada sedih.
“Tentu, aku akan setia menunggumu, sampai kapanpun itu.”
“Benarkah?”
“Iya, memangnya kamu mau kemana?”
“Aku dapat beasiswa buat kuliah Pemrograman di Belanda selama 2 tahun dan 1 tahun kerja disana.” Jawabnya dengan nada tanpa harapan.
“Wow… kamu hebat sayang… kenapa harus sedih? Kamu harus berangkat. Kapan berangkatnya?”
“Lusa sayang, aku akan berangkat. Apa kamu benar – benar tidak apa?”
“Sayang, aku akan setia menunggumu. Aku cinta kamu.” Jawabku sebelum mengakhiri percakapan online kala itu.
            Air mataku tiba – tiba terjatuh tanpa aku sadari. Aku berusaha menahannya tapi nyatanya tidak bisa. Tidak untuk 3 tahun, tapi untuk 3 tahun berikutnya lagi waktu akan mempertemukan kita. Betapa lama Tuhan memberikan waktu untuk kita lewati dengan kilometer tanpa henti.
Hari – hari menuju kepulanganku ke kampung halaman menjadi tidak aku inginkan. Aku tidak mengerti kenapa rasanya hati ini sakit dengan kepergiannya. Tapi ingatlah akan kesabarannya menungguku pulang. Dia tetap setia pada cinta yang telah terbangun indah. Dan aku harus melakukan itu untuknya. Aku akan tetap menunggunya pulang. Aku tidak boleh egois, tidak adil jika aku menghalanginya pergi menjemput impian. Sedangkan dia, selama 3 tahun ini terus mendukungku untuk meraih ini semua. Aku telah mendapatkan segalanya yang aku inginkan. Aku telah menjadi apa yang aku inginkan sejak dulu. Mendapatkan perhargaan sebagai animator muda terbaik dunia dan jajaran kontrak menunggu tanda tanganku. Diapun harus mendapatkan semua mimpinya. Aku percaya waktu akan mempertemukan kita pada saat yang indah. Saat dimana Tuhan merencanakan kamu untukku.
                 ---------------------------------------000-----------------------------------
Pagi ini dunia tersenyum melihatku. Kedua bola mataku menelusuri seluruh sudut kantor berlantai 5 ini. Indie Intermedia, perusahaan animasi terbesar di negaraku. Hasil jerih payahku selama 3 tahun di Jepang telah terrealisasikan. Disinilah aku menghabiskan waktuku untuk menunggunya pulang. 2 tahun telah terlalui waktuku untuk menunggu kepulangannya. 5 tahun bukan waktu yang singkat bukan? Dan aku harus sabar menunggu tahun terakhirnya. Aku akan setia menunggunya datang kepelukanku.
“Maaf bu, tadi ada telpon untuk ibu dari Mas Hans. Katanya hari ini beliau akan pulang dan minta ibu untuk menjemputnya di bandara jam 2 siang.” Tutur Sarah, sekretasis terbaikku.
“Jam 2? Ini jam setengah 2 kan? Wah saya kesana dulu. Nanti kalau ada yang nyari suruh ninggalin pesen aja ya. Thanks Sarah.” Ucapku dengan panik dan langsung berlalu dengan kunci mobilku.
Jalanan dipenuhi air hujan dan kemacetan panjang akibat kecelakaan truck yang menewaskan 3 orang. Aku tidak sabar menunggu, maka kuputuskan untuk keluar dari mobil dan berlari menuju bandara yang masih berjarak 1 kilometer. Berlari dibawah genangan air hujan dengan detak jantung tak menentu. Seluruh pikiranku dipenuhi dirinya yang beberapa detik lagi akan kudekap erat. Dengan basah kuyup aku mencoba menelusuri setiap sosok lelaki di sudut bandara. Karena tak menemukannya, kuputuskan untuk duduk sejenak di kursi tunggu berwarna abu-abu.
“Pengumuman – pengumuman, telah terjadi kecelakaan pesawat penerbangan dari Belanda hari ini. Kecelakaan tersebut diakibatkan cuaca buruk yang telah melanda negara kita. Korban belum diketahui jumlahnya, namun dapat dipastikan belum ada jiwa yang selamat.” Sebuah pengumuman mengejutkan dari sumber suara yang selalu menjadi pusat perhatian banyak orang.
Nafasku tersendat dan jantungku berhenti. Air mataku keluar tanpa bendungan. Tubuhku menggigil kedinginan dan saat itulah aku merasa separuh jiwaku pergi. Aku benar – benar terjatuh dengan amat sangat. Dengan langkah tertatih aku keluar menuju mobil yang entah terparkir sembarangan di jalan. Tetesan air mata mengalir tanpa kuhiraukan. Di bawah hujan aku berusaha berdiri tegar. Tapi aku selalu gagal melakukannya, aku tidak percaya 5 tahunku terbuang percuma. Aku tidak percaya bahwa penantian ini tidak berujung. Aku benar – benar tidak mengerti kenapa Tuhan membiarkan waktu memperlama keadaan. Apa yang bisa aku lakukan tanpa dia? Semua mimpiku hancur bersama guyuran hujan dan derai tangis kehilangan.
“Sayang, jangan pergi sebelum kamu menemukanku kembali.” Tutur seorang lelaki yang telah mendekapku dengan erat.
“Hans? Apa kamu hans? Kamu tidak apa – apa? Apa kamu terluka sayang? Apa aku bermimpi?” Ucapku masih tak percaya melihat sosok lelaki yang aku kira telah benar – benar pergi.
“Aku pergi untuk kembali, untuk kembali kepelukanmu.” Jawabnya seraya memelukku dengan erat.
Lagi – lagi hujan merencanakan hal indah untukku. Hujan mempertemukan dia untukku. Hujan selalu setia mendampingi penantian panjang penuh cinta. Entah apa yang terjadi, entah kenapa dia kembali belum pada saatnya. Tapi setelah itu aku bisa membuktikan bahwa dia tidak akan pernah pergi lagi. Saat pagi menyapa aku melihat sosoknya tersenyum manis di hadapanku. Kini, hariku kembali penuh cinta dan tawa. Genggaman tangan dan dekapan hangat darinya selalu menjadi semangat penuh kerinduan. Penantian panjang itu berakhir dengan bahagia. Ketika hujan mempertemukan cinta lama, maka kilometer tak akan bisa memisahkannya.


By: Iin Indah Istripah