Saturday, 19 December 2015

si Jambul Pulang


Ini bukan si Jambul, aku tdk menemukan fotonya,
tapi dulu waktu kecil si jambul seperti ini
tepat seminggu si Jambul pulang, Jambul telah bersamaku lebih dari 8 tahun.
Aku mengingatnya saat pertama aku menemukannya jatuh dari sangkarnya. Kala itu si  jambul masih kecil sekali, bahkan belum bisa terbang dengan sayapnya. Aku mengambilnya dan berniat untuk mengembalikan kepada induknya. Namun induknya tidak pernah terlihat mengunjungi si Jambul. Beberapa kali aku berusaha melepas si jambul ke alam bebas, membiarkannya pergi dari sangkar. Namun dia selalu kembali dan enggan pergi. Aku bahkan mengingat bagaimana dulu dia aku biarkan latihan terbang di luar sangkar. Jujur aku tidak ingin mengambil kebebasannya sebagai seekor burung. Tapi si jambul selalu saja kembali. Hingga akhirnya waktu berlalu, dia selalu menyambutku dengan hangat setiap aku pulang ke rumah, setiap aku membawa makanan di dekatnya dia selalu rame seolah ingin aku membagi apa yang aku makan padanya. Tentu saja dia mau aku beri makanan makanan itu, dari kerupuk, roti, buah - buahan, bahkan susu anget pun dia mau.

Sekarang dia pulang ke rumahNya, di surga. Beberapa kali jambul sakit dan aku memberinya obat dari toko burung, kemudian dia kembali lagi bersiul.  Terkadang aku berpikir apakah jambul bahagia bersamaku? apakah dia kesepian di dalam sangkar? apa yang dia rasakan setiap hari berada di  dalamnya? beberapa kali aku mencoba mencarikannya teman, namun satu persatu dari mereka pergi entah mati atau dikembalikan ke penjual karena stres. Hingga adikku membeli satu burung parkit yang begitu enggan ku dekati.

Hampir setiap hari aku bercerita pada jambul, apa yang aku rasakan apa yang aku inginkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaanku, seakan akan dia mengerti, dia menanggapinya dengan siulan. Ah, aku merindukannya... Terbanglah yang tinggi jambul, terbang dilangit langit surga, maafkan kami yang mungkin saja tidak membuatmu bahagia, maafkan kami yang kadang lupa memberimu makan atau membiarkan isi minumanmu kosong. Maafkan kami yang juga sering malas malasan membersihkan sangkarmu. Setelah kamu pulang sangkar itu kosong, aku membiarkannya seperti itu, entah kenapa aku tidak ingin memasukkan burung baru disana. Aku lebih bahagia melihat burung - burung terbang bebas diangkasa daripada mengurungnya untuk bersiul dan menemaniku bercerita.
Saat ini masih ada si parkit yang entah kenapa membuatku sedih ketika melihatnya, aku ingin melepaskannya, membiarkannya terbang tinggi diangkasa :')